right_side

About Me

Foto saya
lahir di Bangkalan 07 Januari 1986. Ia adalah salah seorang pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), Karya-karyanya tersiar di Mingguan Wanita Malaysia, Mingguan WartaPerdana, Tunas Cipta, Daily Ekspres, Utusan Borneo, New Sabah Time, Mingguan Malaysiadll juga terkumpul dalam berbagai antologi terbit di dalam maupun luar negeri seperti Mengasah Alief, Akar Jejak, Jejak Sajak, Toples, Epitaf Arau, Solo Dalam Puisi, Menyiarat Cinta Haqiqi, Sinar Siddiq, Anjung Serindai, Unggun Kebahagiaan dll juga pernah dibacakan di beberapa tempat di Indonesia dan Malaysia termasuk di Kongres Penyair Sedunia ke-33, Penerima Anugerah Kedua Hescom2015 Vlog dan Rubaiyat (5 Desember 2015) di Malaysia. Buku puisi terbarunya Menemukan Allah (Pena House, 2016). Alamat Rumah Pondok Pesantren Al-Ittihad Junglorong Komis Kedungdung Sampang Madura. HP 087850742323

Pengikut

SMP (Sanggar Matahari Pamungkas)

In:

Reoni + Sahabat = Cinta


Beberapa kali aku sempat ngobrol dengan beberapa sahabat ``SUNSER´´ lewat media internet, di YM maupun di jejaring sosial, Facebook. Mereka ada yang memang kukenal sebelumnya, dan ada juga yang kukenal lewat dunia maya. Sesekali kadang mereka menanyakan sesuatu, ``Btw, ibrims gak ikut reuni ta?´´, begitulah kadang mereka bertanya lewat media elektronik ini. Aku tidak tahu apakah pertanyaan seperti itu hanya sebagai basa basi saja, atau hanyalah sebuah pertanyaan retoris belaka, pertanyaan yang dulu kuketahui di pelajaran Bahasa Indonesia, adalah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Ah sudahlah, semua itu tidak penting bagiku, Karena aku yakin sebagian mereka pun tentu pasti tahu kalau aku tidak mungkin bisa menghadiri acara reuni akbar ini.

Sungguh kalau berbicara keinginan, pastinya aku ingin banget menghadiri acara kumpul-kumpul seperti ini. Karena bisa berkumpul bersama kalian merupakan sebuah kebahagian tersendiri bagiku. Tapi, ya itulah kawan, maksud hati sebenarnya ingin banget memeluk gunung (apa lagi meluk kalian he.. ^_^), sayangnya lenganku terlalu pendek. Yah, inilah aku, aku dengan segala keterbatasanku, untuk itu aku rasa tidak usah kujelaskan panjang lebar kenapa aku tidak bisa menghadiri reuni ini, karena sebagai mahluk yang bisa berfikir aku yakin kalian pasti tahu kenapa aku tidak bisa menghadiri reuni kali ini.

Tapi walaupun demikian, sebisa mungkin aku ingin berbagi walau hanya sekedar sapa lewat media elektronik ini, karena hanya inilah yang bisa aku lakukanan saat ini. Karena hanya inilah kemampuanku untuk ikut memeriahkan reuni ini. Dan karena hanya lewat inilah aku bisa berbagi, berbagi cerita tentang arti sahabat, karena pada diri kalianlah kutemukan arti seorang sahabat. Arti yang tidak kutemukan pada sahabat maupun benda yang lain.

Mungkin ada yang bertanya, apa sih arti kalian bagiku?. Terus terang saja, mungkin kalau memang benar ada pertanyaan seperti itu berkecamuk di kepala kalian, aku hanya bisa meminta maaf, karena aku sendiri tidak bisa menjawabnya. Entah kenapa, yang jelas bagiku kalian seperti mentari, mentari yang senantiasa kan menari, sementara yang lain hanyalah sebatas pelangi.

Ngomongin sahabat tanpa ngomongin cinta gak asik kali ya?. Ups, pasti kalian berpikir, cinta lagi-cinta lagi. Lagi-lagi cinta. Apa sih cinta? Terus apa sebenarnya hubungan reoni, sahabat, dan cinta? Maaf kawan, mungkin kalian berfikir ini adalah rumus berbahaya yang lebih mematikan dari rumus yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki.

Tidak usahlah kau risaukan itu, aku hanya teringat sebuah kata-kata di dalam sebuah film yang pernah saya tonton, (kebanyakan nonton kali ya…he.. :)). ``Kalau saya tidak bisa bersahabat dengannya, berarti saya tidak bisa mencintainya´´, begitulah samar-samar kuingat kata-kata itu. terlepas dari benar tidaknya ungkapan ini, yang jelas saya rasa cinta dan persahabatan memang tidak dapat dipisahkan. Ibarat taman cinta adalah bunganya. Ibarat bunga sahabat adalah tangkainya. Untuk itu, aku sangat berbahagia sekali karena saya diberi kesempatan untuk bisa bersahabat dengan kalian. Dengan begitu, walau kini jarak telah memisahkan aku dan kalian, tapi aku selalu merasa dekat, karena ada cinta diantara kita semua.

Terima kasih sahabat..

Terima kasih cinta..

Akhirnya, aku hanya bisa berdoa dan berharap semoga kita semua tetaplah seperti ``sang surya, kita pun bercahaya´´.




Nasr City, 27-02-2010 M

In:

Api dan Penjara, Mengubur Impian-impian Itu

(Cerpen)

“Ketika abah dihukum tanpa kepastian batas hukuman. Umi diam-diam kembali membangkitkan harapan untuk berangkat ke tanah suci Makkah dengan menjual kue, hingga akhirnya jatuh sakit.”

Aku mengenal umi dengan perjumpaan yang sangat sederhana, perjumpaan saat beliau sedang menyajikan nasi kepada pembeli. Wajahnya ayu, kerudung besar membalut kepala dan sebagian atas tubuhnya, beliau begitu lincah melayani pembeli sambil sesekali menunduk jika ada pembeli lain jenisnya.

Namanya Rofiqa Sanwani, seorang ibu dengan tiga orang anak, yang kemudian aku kenal sebagai ibu dari istriku. Banyak yang bisa aku lakukan dengan umi, beliau tidak pernah canggung membincangkan perihal hidup walaupun umi belum sempat mengenyam pendidikan sekolah menengah atas.

Dari banyak perbincangan itu, aku seringkali melihat umi tersenyum sambil berkisah tentang masa lalunya yang sebenarnya pahit.

“Robiah adalah anak yang paling merasakan nikmatnya hidup di masanya, ketimbang yang lain,” ceritanya. Aku tahu ini bukan awal cerita yang menyenangkan. Karena umi adalah orang yang selalu ingin menegarkan diri dengan menyukuri nikmat Allah walaupun pahit.

Istriku memang anak yang paling merasakan kebahagiaan saat masih berumur tiga tahun. Sebab semua orang tahu, bahwa dulu umi adalah orang yang berkecukupan. Bahkan boleh dibilang orang yang berada di atas rata-rata. Umi bersama abah memiliki tiga toko. Masing-masing adalah toko mainan, sembako, dan emas. Semakin hari, toko-toko yang ada semakin memberikan hasil yang banyak. Kemampuan berkomunikasi abah dan umi yang baik, membuat para pelanggan semakin betah dan percaya kepada abah dan umi.

Tidak salah, jika abah dan umi berniat untuk menunaikan haji. Untuk memancing terealisasinya keinginan itu, umi dan abah sering kali membeli barang-barang Makkah, baik parfum, kurma dan lainnya. Ini juga yang menjadi alasan, kenapa umi dan abah sangat fasih mengomentari barang-barang timur tengah.

Sebenarnya keinginan ini bermula dari kebiasaan umi menyimpan barang-barang pemberian orang yang baru datang dari tanah suci Makkah, baik berupa tasbih, kerudung dan aksesoris lainnya. Bahkan umi mengoleksi gambar-gambar hajar aswad, maqam nabi ibrahim, multazam, kiswah, dan lain sebagainya pada sebuah album foto. Itulah yang membuat abah tergerak untuk menabung sendiri demi mewujudkan impian umi.

Tanpa harus berangkat ke tanah suci Makkah, banyak orang sudah memanggil umi dengan sebutan hajjah. Mungkin dilihat dari penampilan umi yang selalu tertutup dan penuh wibawa serta yang paling utama “selalu mengumpulkan barang-barang tanah suci”.

Seratus dua ratus ribu uang terkumpul dan diletakkan pada sebuah laci meja di pasar, tentunya akan lebih aman di letakkan di pasar daripada di rumah. Pasar selalu ada yang menjaga dan pintunya tertutup rapi di malam hari.

Uang itu memanglah aman, sesuai prediksi. Namun ketika uang itu sudah hampir mencapai nominal juta, adik umi semata wayang yang sudah tak punya bapak dan ibu, ingin melanjutkan sekolah di pondok pesantren yang biayanya lumayan banyak.

Uang di laci harus keluar walaupun sangat keras kemauan ingin berangkat haji. Sisa uang di laci kembali menjadi ratusan. Tetapi, umi dan abah sangat senang, dengan itu berarti abah dan umi sudah menunaikan tanggung jawab sebagai kakak kepada adiknya.

Berulang kali, laci itu diisi dengan sebagian uang hasil usaha setiap hari. Tidak tahu sudah berapa banyak yang sudah disimpan. Yang jelas, abah dan umi menyimpan uang di laci itu sudah enam bulan lamanya. Berarti bisa dipastikan jumlah uang untuk berangkat haji sudah terasa dekat.
Umi selalu kembali ke rumah pada sore hari, sejak pasar ditutup dan akan kembali ke pasar lagi pada jam tujuh pagi, begitulah seterusnya.

Dan pada hari itu, belum sempat umi sampai di pasar, orang-orang sudah ramai menyiramkan air ke toko umi. Dari kejauhan umi melihat api meluap-luap membakar toko sembakonya. Herannya, umi saat itu tidak berpikir akan keadaan sembako di tokonya, umi malah lari dan ingin masuk ke dalam toko untuk mengambil uang tabungan hajinya. Orang-orang menahan umi agar tidak berbuat konyol.
“Dan seketika itu umi pingsan,” jelas abah, yang kebetulan mendengar pembicaraan aku dan umi. Umi menerawang, selalu begitu untuk menegarkan diri.

Umi adalah orang yang tidak bisa melihat ketegangan, umi punya penyakit sesak dada jika berada dalam keadaan tegang. Dadanya akan sesak dan langsung pingsan. Setelah itu, umi harus tidur dengan posisi bantal yang ditinggikan.

Uang haji telah hilang, umi membolak-balikkan album foto yang diisi dengan bangunan ka’bah, kiswah dan hajar aswad. Umi tersenyum melihat foto-foto itu dan lama-kelamaan tertidur. Tapi yang membuat abah gelisah, umi selalu mengigau hajar aswad dan maqam Ibrahim dalam tidurnya.

Sebulan berlalu, pikiran dan kesehatan umi mulai pulih. Pasar kembali ramai, memang sejak umi sakit, abah juga tidak begitu konsen mengurus pasar. Abah sering pulang sebelum toko-toko sekitar tutup.
Sekembali umi ke pasar, umi kembali ingin menabung. Toko yang sudah lenyap, tidak dipikirnya lagi. Abah tahu bahwa sebenarnya Umi adalah orang yang sangat tabah.

Karena bagusnya komunikasi dan hubungan baik abah dengan para pedagang, abah diangkat sebagai ketua persatuan pedagang pasar Sumenep. Abah banyak aktif dalam pembangunan dan penentuan kebijakan pasar.

Namun tidak semua orang suka dengan usaha baik. Apalagi pemerintah Sumenep ingin melakukan pemindahan pasar ke tempat lain, dengan janji bahwa para pemilik toko akan diberi uang ganti rugi seadanya. Abah dan kelompok persatuan pedagang yang dipimpinnya menolak, mereka tahu sebenarnya ada politik kotor, maka berakhirlah niat pemerintah untuk memindah pasar, karena kalah kekuatan dengan massa pasar yang cukup banyak.

Gonjang-ganjing tentang pemindahan pasar kemudian tidak terdengar lagi, namun pemerintah di sisi lain membuat propaganda, yaitu mendekati abah dan menawarkan bagi hasil. Abah menolak. Padahal kalau dihitung uang sekarang, abah akan mendapatkan uang milyaran rupiah dalam proyek buta itu.
Penolakan abah akan tawaran kompromi, membuat geram pemerintah, sehingga mereka nekat membakar pasar. Namun namanya pemerintah yang licik, kebakaran itu didramatisir seakan terjadi karena musibah.

Sebagai orang yang menolak dan memimpin pemberontakan, abah diincar oleh pemerintah, maka toko yang paling parah dan luluh lantah adalah toko abah dan umi.
Maka pasca kebakaran inilah, awal mula harapan naik haji menjadi runtuh bersama puing-puing toko yang sudah tidak berbentuk lagi. Dari toko-toko yang ada di pasar, hanya toko umi yang barang-barangnya sama sekali tidak bisa diselamatkan. Untung saja ada balon-balon dan mainan hewan-hewanan tiup yang ingin direture masih ada di rumah.

Abah dan umi tidak punya apa-apa lagi, rumah yang selama ini ditempati adalah rumah nenek, alias numpang. Pasar menjadi kacau, kekayaan abah dan umi hanya tinggal mainan balon itu.
Setelah pasar porak-poranda, pemerintah kembali berinisiatif memindahkan pasar, dengan alasan pemulihan pasar yang lebih baik dan lebih bersih.

Karena pasar memang sudah hancur, dan masyarakat sudah mengalami krisis, maka mereka menuruti himbauan pemerintah, kecuali abah.

Sejak jam tiga sore, satu kompi polisi mengepung rumah nenek yang kami tempati dengan mengangkat senjata, untuk menangkap seorang abah. Yang tidak habis pikir, hanya untuk menangkap seorang abah, harus menurunkan satu kompi polisi.

Umi terkaget melihat satu kompi polisi itu mengepung rumah, apalagi melihat abah ditarik paksa dan dua senapan terarah ke punggung abah. Umi berlari dan memegang kaki salah seorang dari polisi itu. Tapi sia-sia, kekuatan polisi jauh lebih besar daripada umi.

Akibat tepisan kaki polisi, kopyah putih yang umi belikan untuk abah terlempar. Umi membeli kopyah itu dari sisa uang kembalian seratusan hingga lima ratusan. Itulah usaha umi untuk sekedar menenangkan diri, bahwa dirinya masih bisa berharap untuk naik haji.

Abah dibawa ke kantor polisi, bukan untuk diperiksa, tapi untuk disiksa dan dipaksa mengakui kesalahan yang direkayasa. Atau dengan kata lain, polisi ingin melumpuhkan abah yang selalu menjadi pengobar pemberontakan terhadap upaya mereka.

“Sehari setelah itu, umi bukan melihat ka’bah yang konon kata orang-orang penuh aroma surga, banyak orang shalat dan mengucapkan do’a. namun malah sebaliknya. Umi melihat sebuah penjara dan abah yang tampak lebih kurus dengan sedikit memar di punggungnya.”

Sejak itu, umi merawat kedua anaknya dengan sangat hati-hati dan setiap hari membawakan makanan dan mengganti jubah abah setiap hari. Abah sebenarnya risih menggunakan jubah di penjara, seakan ada upacara haji di penjara. Tapi demi melihat umi yang sedang kalut, abah memakai jubah itu dengan senang hati.

Abah ditahan tanpa ada ketentuan lama penahanan, abah bisa saja ditahan bertahun-tahun, karena tidak ada kepastian hukum. Namun hal ini tidak membuat umi tergoda melihat laki-laki lain. Umi malah lebih hati-hati atas fitnahan.

Sebulan sejak penahanan abah, umi semakin kurus pula. Adik selalu merengek di malam hari. Dua anak perempuan yang masih sangat belia itu diurus seorang umi tanpa penghasilan. Dari situ, mulailah umi berjualan makanan ringan yang dititipkan ke toko orang. Umi tidak menjualnya sendiri, umi ingin menghindari fitnah.

Parahnya, adik yang kemudian aku panggil bidadari, selalu sakit dan mengigau nama abah dalam tidurnya. Lain lagi dengan adik dari istriku itu, dia malah tidak mau makan semenjak kepergian abah ke rumah tahanan.

Penghasilan yang cukup lumayan, untuk kebutuhan mereka bertiga. Tapi umi masih menyisakan sebagian dari penghasilan itu untuk kembali menabung demi menunaikan ibadah haji. Caranya, umi berpuasa daud.

Umi jatuh sakit, salah seorang dari putrinya pun sakit. Uang cicilan yang masih sedikit dan tidak sampai satu juta harus diambil demi keperluan obat. Umi terus berusaha, tapi saat ini pun sudah tidak bisa rupanya.

Sekarang, anak-anaknya melanjutkan kuliah dan butuh biaya. Tapi foto itu tak juga lapuk. Umi dan abah malah sekarang berbisnis kurma di musim haji. Baik kurma yang paling jelek (kurma iraq) sampai kurma ajwa’ yang sering disebut-sebut sebagai kurma nabi. Umi masih ingin naik haji.
Abah dan umi sebenarnya tetap ingin menunaikan ibadah haji, tapi apa mungkin naik haji dengan menelantarkan pendidikan anak. Umi menangis di atas sajadah bergambar ka’bah. [choise]

In:

KEBERSAMAAN KITA

Teruntuk guruku tercinta KH. Moh. Idris Jauhari

Kau hadiahkan buah ilmu
Hingga hilang laparku

Mengeja kebersamaan kita
O guruku
Halaman silaturahmiku semakin hijau

Impianmu yang telah kuterjemahkan
Dalam bait-bait hidupku
Ringkasan mutiara hikmahmu
Itulah tempatku bercermin
Sesekali mengingatkanku betapa rindang pohon kasihmu

Jalan yang kau tempuh
Adalah hamparan sejarah
Untukku melangkah
Hingga aku bisa meraba jaman
Antarkan aku dengan doamu, guruku
Resahku yang menjelma guyuran hujan di halaman tungguku
Itulah yang akan segera reda beriring ridla Tuhan

Al-Amien, 05 Februari 2010

In:

BUKAN PEREMPUAN

Cerpen Pemenang Lomba Cerpen STAIN Purwokerto

Aku bukan perempuan. Tetapi mengapa kau menciumiku? Aku tidak sedang bermimpi. Tetapi ini tak dapat kupercaya dengan akal sendiri. Aku masih pura-pura terlelap ketika seseorang mulai menciumiku, memelukku bagai sebuah boneka yang tak berdaya. Ingin kuberontak. Tapi entah mengapa aku tak bisa. Aku takut. Takut menghadapi kenyataan bila orang yang memperlakukanku dengan begitu hina ini adalah seseorang yang amat aku kagumi.
“Kau sudah terbangun?” ia membisiku.
Aku terdiam. Hatiku berdetak lebih cepat. Rasa takut menghantuiku. Tidak salah lagi. Aku mengenal suara ini. Ini suara Ardi. Tidak salah lagi.
“Tenang saja. Kau akan nyaman bersamaku. Aku akan memelukmu. Kau pasti kedinginan ya? Malam ini memang angin laut begitu kencang,” lanjutnya. Aku masih terdiam. Aku hanya ingin malam ini cepat selesai. Tetapi Ardi malah memelukku dengan pelukan yang lebih kencang.
Mataku kupejam dalam-dalam. Ini pasti mimpi. Aku ingin ini hanya terjadi dalam mimpi. Tapi, ah... Sentuhan Ardi terasa begitu nyata begitu pula dengan ciumannya. Berusaha membangkitkan nafsu purbawi. Tapi aku tak memedulikannya.
“Mengapa kau diam saja? Malam ini begitu indah. Kau buka matamu, lihatlah dari balik jendela. Bulan bercahaya dengan sempurna. Langit cerah. Bukalah matamu, ini akan menjadi malam yang indah,” ia masih mendawai kemudian membelai kepalaku dengan sesekali menciumiku. Aku muak. Ingin berontak. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya, aku tahu siapa yang memelukku. Aku tahu benar siapa yang memperlakukanku dengan hina ini. Seorang santri yang sangat pintar. Mendapat nilai selalu mumtaz , mahir dalam berbahasa Arab dan Inggris dengan fasihnya, dan dinobatkan sebagai santri teladan.
Dan kini, aku berada dalam pelukannya. Ah, sungguh aku tak pernah berpikir kedekatanku dengannya akan berakhir seperti ini. Aku memang selalu belajar banyak hal dengannya. Hingga keberadaanku di dalam ruangan ini pun karena niatku untuk belajar bersamanya. Tetapi, mengapa Ardi berubah?
Aku tak mendapatkan jawaban apa-apa selain tubuh Ardi yang terus-menerus mengamitku.
***
Pagi-pagi aku hanya terpekur di depan kamarku. Aku memikirkan kejadian semalam. Hatiku rasanya terpukul. Pergumulan semalam telah membuatku merasa sebagai makhluk paling hina. Tuhan pasti tahu, karena Allah Maha Mengetahui. Ah, aku tak sanggup memikirkan dosa itu. Sesak sekali dadaku. Ingin kumenangis. Tapi aku bahkan tak dapat mengeluarkan air mata.
“Aynal Ihsan? ” tanya temanku Ridwan yang kemudian membuyarkan lamunanku.
“Ma kuntu bi ‘arif, ” jawabku singkat.
“Wah, fasih sekali bahasamu. Biasanya juga jawab ma fi ,” ejek Ridwan.
“Kau seperti tidak tahu saja. Diakan dekat dengan Ardi, santri kelas akhir itu,” timpal teman Ridwan. Entah mengapa hatiku sesak mendengar nama Ardi disebut-sebut. Rasanya aku ingin enyahkan nama itu dari muka bumi ini.
“Oh, ya. Pantas kamu jadi pintar begini. Kalau ketemu Ihsan nanti beritahu ia mudif. Kami mau ke masjid dulu, ada bersih-bersih masjid. Ok?” lanjut Ridwan kemudian.
Aku hanya menganggukan kepalaku dan kembali terpekur dengan lamunanku. Tapi tak lama, dari kejauhan aku lihat Ardi berjalan menuju ke arah kamarku. Aku segera masuk ke dalam. Aku tak mau bertemu dengannya. Aku beri tahu temanku untuk tidak memberi tahu keberadaanku dan aku bersembunyi di balik lemari.
Aku lihat dari jendela, Ardi tampak kecewa dan pergi meninggalkan kamarku. Tak lama berselang, temanku datang padaku.
“Wah beruntung sekali kau! Kau dipilih mewakili pondok untuk ikut lomba pidato bahasa Arab. Nanti malam disuruh ke diwan . Kau akan dilatih oleh orang yang paling hebat di pondok ini!” terangnya dengan suara menggebu-gebu.
Tetapi sebaliknya denganku. Tubuhku terasa lemas. Karena aku tahu, orang itu adalah Ardi.
“Ada apa? Mukamu mengapa cemas begitu? Takut kalah? Ah, itu biasa. Menang kalah dalam lomba itu biasa.”
Aku hanya tersenyum kecil dan menundukan kapalaku. Dia tak tahu, orang yang dibanggakannya itu adalah orang yang paling hina bagiku. Lebih hina dari hewan manapun! Aku menggerutu. Ah, datangkah aku nanti malam? Entah mengapa, aku merasa sesak di dadaku makin bertambah.
***
Aku terbangun ketika kurasakan tubuhku terasa berat seperti ada yang menindih. Aku segera sadar. Bahwa seseorang telah memelukku dan tidur tepat di atas tubuhku. Aku tahu orang itu adalah Ardi.
Aku teringat, pukul dua belas malam aku masih berlatih pidato dengannya. Saat itu masih ada teman-temanku yang lain. Tapi sekarang, aku tak tahu. Aku tertidur mungkin saat latihan dan yang lain telah pulang.
Ardi masih tertidur. Nampak nyenyak sekali bahkan ketika aku pura-pura berpaling dan membiarkan tubuh setengah telanjang itu tergeletak di antara kitab-kitab. Aku menatap miris. Entah berapa lama. Sedih pada nasibku, perih sekali. Seperti ada yang menusuk. Tajam sekali mengiris hati.
Ya, Allah... sampai kapan aku harus terus begini? Berikan jalan yang terbaik bagiku, hatiku membatin.
Ah, rasanya aku ingin berhenti dari pesantren ini. Berlari dari kenyataan pahit ini. Tapi aku tak tega pada Bapak. Telah susah payah Bapak membiayaiku hingga aku telah lima tahun di pondok ini. Aku tahu, Bapak membiayai semua ini dengan meminjam uang ke mana-mana. Tak tega rasanya, bila aku memupuskan impiannya begitu saja apalagi aku hanya tinggal satu tahun lagi di sini. Dan aku yakin, ini hanya masalah waktu.
***
“Pidatomu itu bagus sekali. Pantas kamu juara,” puji seorang perempuan. Ia juga utusan pesantren kami dari pondok putri yang kini berada dalam sebuah bis yang sama.
“Terima kasih. Kau juga. Aku yakin seharusnya kau juara satu. Tapi sayang jurinya banyak yang tuli,” jawabku.
Kami tertawa.
“Kau menyindirku?”
“Tidak, aku serius.”
Perempuan itu bernama Shaleha. Entah mengapa aku merasa jatuh hati padanya. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sumenep yang lebih dari empat jam itu menjadi tak terasa. Tapi entah mengapa Ardi melirikku berkali-kali. Cemburukah ia padaku?
***
Jumat ini seperti menjadi jumat terakhir bagi kyai kami, ia duduk di antara kami para santrinya. Aku lihat berkali-kali Kyai Mustofa terbatuk-batuk. Banyak yang menduga penyakitnya itu akan membawanya kepada kematian. Sudah banyak isyarat yang ditunjukan kyai, misal saja dengan berkali-kali menyebut agar manjaga pesantren ini.
Semua sudah tahu, kyai anti dokter. Menurutnya, kesembuhan hanya datang dari yang memberi penyakit. Itu sudah menjadi watak Kyai Mustofa. Meski anak-anaknya sudah berkali-kali menganjurkan untuk membawa ke dokter. Tapi Kyai Mustofa bersikeras untuk tidak berobat.
“Anak-anakku...,” suara Kyai Mustofa terpotong dengan batuk-batuknya yang membuat tubuh tua itu bergoncang-goncang. Meski dalam keadaan seperti itu, kyai tampak masih berusaha menjawab pertanyaan santrinya.
“Orang yang baik itu hanya untuk orang baik Nak. Telah jelas dalam surat An-Nur hal itu dipaparkan. Jadi tidak mungkin ada seorang mukmin menikahi seorang pelacur,” terang Kyai Mustofa.
Kami semua menunduk. Termasuk temanku yang bertanya. Mungkin dalam hatinya, segala pikiran tengah berkecamuk sebab temanku itu mencintai seorang yang kini telah hamil tiga bulan karena menjadi pelacur.
“Jika kalian ingin mendapatkan istri yang shalehah, maka kalian harus menjadi seorang yang shaleh terlebih dahulu...” suara kyai terdengar agak serak dan begitu berat. Tak lama kyai mengakhiri ceramahnya pagi itu.
Ketika keluar masjid. Dalam hati kubertanya pada diriku sendiri. Aku bukan orang baik, dapatkah aku mendapatkan istri yang baik?
***
Abah menginginkanku cepat mendapatkan penggantinya. Abah mau, aku cepat menikah. Aku berharap, kamu yang menjadi suamiku.
Demikian kutipan surat yang aku terima saat aku bersiap-siap menyapu halaman kamar yang kotor. Aku terima surat itu dengan segala ketakjubanku. Pertama, surat itu dari Shaleha; perempuan yang mampu menggetarkan hatiku. Kedua, Shaleha adalah anak Kyai Mustofa yang sungguh aku tak mengira sebelumnya. Ketiga, Shaleha memilihku menjadi pendampingnya. Ini lebih dari suatu mimpi yang indah. Aku tak pernah membayangkannya. Tetapi entah mengapa surat itu malah membebani diriku. Sebab, pantaskah aku menjadi suami Shaleha?
Aku ingat pergumulanku dengan Ardi. Aku terlalu hina untuk menjadi seorang suami dari anak kyai. Terlalu hina untuk menjadi generasi penerus dari pesantren yang begitu besar namanya ini. Bukan tidak mampu, tapi aku malu. Malu pada kehinaan yang memeras hatiku hampir dalam setiap sujudku.
Lama aku berpikir. Cinta yang bermekaran di hatiku, harumnya bercampur dengan busuknya diriku. Aku sungguh tak tahan pada keadaan seperti ini. Pada akhirnya aku memutuskan salah satu keputusan terberat dalam hidupku. Menolak tawaran Shaleha.
***
Aku sungguh tak mengira kalau pada akhirnya Shaleha memilih Ardi untuk menjadi suaminya sedang Ardi begitu bangga bercerita padaku.
“Kyai Mustofa memanggilku. Ia berniat menjodohkanku dengan Shaleha,” terang Ardi. Aku muak mendengar kata-kata itu. Aku menatap Ardi dengan tatapan yang begitu benci.
“Mengapa? Kau cemburu?” nada suaranya seperti mengejekku.
“Tenang saja. Aku akan tetap mencintaimu,” bisiknya di telingaku. Aku geram. Sangat geram dan ingin menghajar mukanya.
“Kau itu tak pantas untuk Shaleha!” bentakku padanya. Tapi Ardi malah tersenyum dan pergi meninggalkanku seperti tak mendengar kata-kataku.
Aku segera menghubungi Shaleha.
“Kau ingin menikah dengan Ardi?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya di seberang telfon sana.
“Kau jangan pilih dia. Pilih saja yang lain. Ada banyak lelaki yang lebih baik dari dirinya. Jangan pilih Ardi!” terangku berusaha menyakinkan Shaleha.
“Memang kenapa?” tanyanya heran.
“Dia itu...,” aku ragu ingin mengungkapkan semua kehinaan ini.
“Dia itu apa?” Shaleha mendesakku. “Dia itu lebih baik darimu bukan? Kau bahkan tak peduli pada nasibku,” Shaleha terdengar terisak.
“Bukan itu masalahnya.”
“Lantas apa? Aku tak butuh penjelasanmu.”
Telfon ditutup. Aku berusaha menghubungi kembali tapi tak diangkat. Aku putus asa.
***
“Ardi itu begitu beruntung mendapatkan Shaleha. Anak Kyai Mustofa itu selain cantik, juga sangat pintar,” ujar salah seorang temanku, entah siapa.
“Tapi Ardi itu memang yang terbaik di pesantren ini. Ardi memang yang paling pantas mendapatkannya,” ujar yang lain.
“Tentu saja karena dia yang paling pintar dan paling layak dipanggil Kyai.”
Entah mengapa hatiku menjadi begitu sesak. Aku ingin berteriak. Ingin sekencang-kencangnya. Agar semua orang tahu bahwa Ardi itu tidak lebih dari kaum Nabi Luth! Seorang homo yang hanya suka pada lelaki.***

*